Search
Close this search box.

We are creating some awesome events for you. Kindly bear with us.

EKSKLUSIF! Menjajaki Potensi Teknologi Kesehatan Masa Depan bersama Lawrence Ho Khek-Yu, Konsultan Senior & Profesor National University Hospital, Singapura

Kemajuan teknologi dan sains telah membawa efektivitas dan efisiensi industri kesehatan sehingga bisa menjangkau lebih banyak orang di pelosok wilayah. Kemudahan akses pada layanan perawatan kesehatan ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup dan umur warga.

Telemedicine menjadi salah satu perkembangan terbaru di industri ini yang populer imbas pandemi COVID-19. Saat itu, telemedicine berhasil membantu pasien untuk berkonsultasi dengan dokter, melakukan diagnosis, dan pengobatan dari jarak jauh.

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) ikut berkontribusi memodernisasi layanan kesehatan. AI berpotensi membantu dokter untuk membuat diagnosis yang lebih cepat dan akurat, memprediksi hasil kesehatan, dan melakukan asistensi rencana perawatan. Layanan berbasis AI seperti chatbots dan asisten virtual, juga bisa dimanfaatkan untuk menjembatani komunikasi layanan kesehatan dengan pasien.

Pengobatan yang efektif, teknik diagnostik yang lebih akurat, dan sistem pemberian obat yang lebih baik diarahkan untuk memperbaiki sistem perawatan, pengobatan, dan prognosis pasien. Selain itu, kemajuan teknologi juga diharapkan bisa mengurangi biaya perawatan kesehatan lantaran operasional yang makin efisien.

Menggali potensi dari celah di teknologi kesehatan

Lawrence Ho Khek-Yu, Konsultan Senior & Profesor National University Hospital, Singapura sepakat kalau COVID-19 memang membantu mempopulerkan telemedicine. Meski demikian, ia merasa layanan ini masih sulit untuk menggantikan layanan konsultasi tatap muka. Menurutnya, telemedicine saat ini memiliki peran penting dalam hal konsultasi, namun masih memiliki sejumlah kelemahan dibanding diagnosis tatap muka.

“Jika Anda menggunakan konsultasi video, Anda hanya dapat melihat tapi Anda tidak dapat memeriksa. Tentu saja pemeriksaan adalah hal yang penting. Semestinya kita bisa memiliki kemampuan yang sama serupa dengan pertemuan tatap muka. Menurut saya, alat pengujian untuk melakukan diagnosa masih kurang pada layanan telemedicine,” jelas Lawrence dalam wawancara dengan CEO & Pemimpin Redaksi OpenGov Asia, Mohit Sagar.

Kedua, layanan telemedicine masih harus mematangkan ekosistem pendukung, salah satunya terkait dengan pengantaran obat. Di Singapura, layanan pengantaran obat bisa dikirim dalam satu minggu. Hal ini tentu akan menghambat proses pengobatan ketimbang langsung datang dan diberi obat ketika melakukan kunjungan tatap muka.

Meski demikian, Lawrence menyebut layanan telemedicine masih dilakukan di masa setelah COVID-19 untuk pasien yang kondisinya sudah cukup stabil di rumah. Sementara sebagian besar pasien sudah kembali melakukan kunjungan tatap muka seperti biasa.

Selain itu, penjelasan yang bisa dilakukan lewat telemedicine menurut Lawrence masih terbatas. Ia merasa kesulitan jika harus melakukan penjelasan dengan tambahan gambar yang dengan mudah dilakukan dalam pertemuan tatap muka secara langsung.

Selain itu, ia pun menaruh perhatian pada kesulitan akses teknologi yang dialami oleh pasien lanjut usia. Telemedicine sulit untuk membaca dan menyampaikan aspek nonverbal dan emosional dari interaksi langsung.

Ia menekankan industri medis perlu mengembangkan dan meningkatkan metode untuk mendiagnosis dan merawat pasien. Ia berharap telemedicine bisa mendukung diagnosis dengan memanfaatkan sejumlah panca indera untuk memeriksa gejala. Dalam pertemuan tatap muka, dokter bisa langsung mengukur detak jantung dengan stetoskop, merasakan dengan sentuhan jari, pendengaran, atau diagnosis sensoris lain untuk mendapat data dari pasien. Kesamaan proses diagnosis seperti inilah yang perlu dikembangkan untuk layanan telemedicine ke depan.

Untuk memperbaiki layanan perawatan medis jarak jauh, semua kekurangan itu perlu ditambal. Tambahan sensor, metaverse dan kecerdasan buatan (AI) dapat dimungkinkan untuk melakukan hal ini dan membantu menganalisa data pasien yang lebih akurat dan komprehensif. Ia optimis kemajuan teknologi bisa mengatasi semua kelemahan itu karena saat ini kita sedang berevolusi untuk meningkatkan layanan telemedicine secara bertahap.

Sebagai seorang investor, menurut Lawrence, inovasi itu menjadi pendorong inovasi yang cukup besar. Namun, agar bisa lebih berdampak, menurutnya baik inovator, akademisi, dan startup mesti benar-benar menyentuh permasalahan di akar rumput. Selama ini, penelitian-penelitian yang dilakukan para edukator kurang peka dengan kebutuhan masyarakat. Mereka melupakan mengapa mereka ada di institusi akademis yang semestinya menelurkan solusi bagi masyarakat. Begitupula dengan para investor. Mereka pun mesti memiliki visi untuk melayani dan menyelesaikan masalah di masyarakat terlebih dulu sebelum menajamkan sasaran ke ceruk pasar yang lebih sempit.

LKYGBPC untuk majukan entrepreneurship

Bagi Lawrence, inovasi berangkat dari inisiatif untuk menyelesaikan masalah dan mengeksekusi ide solusi itu dengan kedisiplinan. Disiplin dalam memperbaiki produk, mengelola konsumen, membangun tim dan organisasi, serta mengelola keuangan. Lawrence menganggap kompetisi bisnis internasional seperti LKYGBPC bisa memberikan kesempatan bagi para pebisnis muda untuk melakukan ekspansi pasar ke negara lain.

Prof Lawrence menjadi investor di tiga startup. Pertama adalah Master and Slave Transluminal Endoscopic Robot (MASTER). MASTER kini telah diintegrasikan menjadi Endomaster, startup MedTech yang paling banyak mendapat kucuran dana di Asia pada 2017. Ia pun mendanai startup di bidang fotonik dan bioteknologi yang mengembangkan peringatan dini dibidang kesehatan.

Berdasarkan pengalaman memiliki tiga startup teknologi kesehatan, Lawrance menyarankan agar startup perlu fleksibel dan membuka diri. Mereka mesti bersedia menerima masukan dari konsumen, tim, dan mereka yang lebih ahli. “Saya merasa bahwa beberapa inovator sangat protektif terhadap produk mereka sendiri, mereka pikir ini adalah bayi mereka.”

Sebab, dari berbagai masukan itu, founder dan tim bisa memetakan dengan cepat berbagai tantangan yang mungkin mereka hadapi di sepanjang jalan. Setelah itu, mereka mesti menemukan orang yang tepat untuk memecahkan tantangan tersebut.

Mereka pun harus berjuang untuk mewujudkan apa yang mereka janjikan dari konsep yang diajukan. Menurut Lawrence, beberapa orang lebih jago menuliskan ide mereka di kertas dan Power Point ketimbang terjun langsung ke lapangan.

“Para pejuang kertas dan Power Point sangat sulit untuk berhasil. Anda harus benar-benar melakukannya hingga berdarah-darah, hingga Anda menguasai dan memenangkan pertempuran,” tegasnya.

Tantangan berikutnya untuk startup kesehatan adalah soal regulasi. Startup perlu menemukan ahli untuk membantu merancang uji klinis agar lolos berbagai uji klinis dan regulasi.

Tantangan yang terakhir adalah masalah komersialisasi produk. Bagaimana menghasilkan pendapatan dari produk yang akan dijual.

PARTNER

Qlik’s vision is a data-literate world, where everyone can use data and analytics to improve decision-making and solve their most challenging problems. A private company, Qlik offers real-time data integration and analytics solutions, powered by Qlik Cloud, to close the gaps between data, insights and action. By transforming data into Active Intelligence, businesses can drive better decisions, improve revenue and profitability, and optimize customer relationships. Qlik serves more than 38,000 active customers in over 100 countries.

PARTNER

As a Titanium Black Partner of Dell Technologies, CTC Global Singapore boasts unparalleled access to resources.

Established in 1972, we bring 52 years of experience to the table, solidifying our position as a leading IT solutions provider in Singapore. With over 300 qualified IT professionals, we are dedicated to delivering integrated solutions that empower your organization in key areas such as Automation & AI, Cyber Security, App Modernization & Data Analytics, Enterprise Cloud Infrastructure, Workplace Modernization and Professional Services.

Renowned for our consulting expertise and delivering expert IT solutions, CTC Global Singapore has become the preferred IT outsourcing partner for businesses across Singapore.

PARTNER

Planview has one mission: to build the future of connected work. Our solutions enable organizations to connect the business from ideas to impact, empowering companies to accelerate the achievement of what matters most. Planview’s full spectrum of Portfolio Management and Work Management solutions creates an organizational focus on the strategic outcomes that matter and empowers teams to deliver their best work, no matter how they work. The comprehensive Planview platform and enterprise success model enables customers to deliver innovative, competitive products, services, and customer experiences. Headquartered in Austin, Texas, with locations around the world, Planview has more than 1,300 employees supporting 4,500 customers and 2.6 million users worldwide. For more information, visit www.planview.com.

SUPPORTING ORGANISATION

SIRIM is a premier industrial research and technology organisation in Malaysia, wholly-owned by the Minister​ of Finance Incorporated. With over forty years of experience and expertise, SIRIM is mandated as the machinery for research and technology development, and the national champion of quality. SIRIM has always played a major role in the development of the country’s private sector. By tapping into our expertise and knowledge base, we focus on developing new technologies and improvements in the manufacturing, technology and services sectors. We nurture Small Medium Enterprises (SME) growth with solutions for technology penetration and upgrading, making it an ideal technology partner for SMEs.

PARTNER

HashiCorp provides infrastructure automation software for multi-cloud environments, enabling enterprises to unlock a common cloud operating model to provision, secure, connect, and run any application on any infrastructure. HashiCorp tools allow organizations to deliver applications faster by helping enterprises transition from manual processes and ITIL practices to self-service automation and DevOps practices. 

PARTNER

IBM is a leading global hybrid cloud and AI, and business services provider. We help clients in more than 175 countries capitalize on insights from their data, streamline business processes, reduce costs and gain the competitive edge in their industries. Nearly 3,000 government and corporate entities in critical infrastructure areas such as financial services, telecommunications and healthcare rely on IBM’s hybrid cloud platform and Red Hat OpenShift to affect their digital transformations quickly, efficiently and securely. IBM’s breakthrough innovations in AI, quantum computing, industry-specific cloud solutions and business services deliver open and flexible options to our clients. All of this is backed by IBM’s legendary commitment to trust, transparency, responsibility, inclusivity and service.