Search
Close this search box.

We are creating some awesome events for you. Kindly bear with us.

Eksklusif! Keamanan Generasi Masa Depan: Kesiapan Menghadapi Ancaman Ransomware Sewaktu-Waktu

Getting your Trinity Audio player ready...

Semakin berkembangnya zaman, semakin cepat teknologi melaju untuk mengubah berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Di tengah kemajuan teknologi yang sangat cepat,  kekhawatiran tentang privasi data, keamanan siber, dan implikasi etis juga meningkat. Hal ini pun menyoroti kebutuhan akan inovasi yang bertanggung jawab terhadap keamanan siber.

Dilaporkan, aktivitas kriminal terus meningkat di paruh pertama tahun ini, dengan lonjakan 8% dalam serangan siber mingguan global pada kuartal kedua yang mencapai volume tertinggi dalam dua tahun terakhir. Para pemimpin teknologi pun kini sedang membahas bagaimana keamanan siber adalah sebuah kebutuhan basis untuk pendorong bisnis dan menciptakan peluang strategis untuk mencapai tujuan jangka panjang pertumbuhan organisasi.

Menurut laporan dari Departemen Teknologi Informasi dan Komunikasi (DICT), Filipina menempati peringkat keempat dalam daftar negara dengan insiden serangan siber tertinggi. DICT juga melaporkan bahwa terdapat sekitar 3.000 serangan siber yang dipantau di negara ini dari tahun 2020 hingga 2022.

Hampir separuh dari serangan tersebut ditargetkan pada sistem dan jaringan pemerintah. Pusat Investigasi dan Koordinasi Kejahatan Siber (CICC) juga melaporkan lonjakan tajam kejahatan siber di Manila, dengan peningkatan mencapai 152 persen dalam enam bulan pertama tahun 2023 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Melihat hal tersebut, perlu adanya penerapan sebuah kebijakan baru untuk  melindungi keamana siber. Negara-negara dapat menerapkan Pendekatan Pencegahan Pertama yang berfokus pada 3C, yaitu Comprehensive, Consolidated, dan Collaborative.

Melindungi keamana siber adalah hal penting yang harus dilakukan, tidak hanya dalam sebuah institusi pemerintah, namun juga sebuah organisasi swasta. Hal ini tentu untuk kesejahteraan karyawan itu sendiri dan untuk meningkatkan pelayanan serta kepercayaan karyawan terhadap perusahaan.

Mengadopsi teknologi yang menggabungkan big data threat intelligence dan teknologi kecerdasan buatan (AI) canggih akan memberikan pencegahan yang akurat dan mencegah ancaman lanjutan di seluruh jaringan, titik akhir, lingkungan cloud, email, dan perangkat Internet of Things (IoT) perusahaan sebelum terjadi.

Selain itu, perlu dilakukan pula untuk memperkuat infrastruktur dan kemampuan keamanan siber dalam dunia digital saat ini. Hal ini memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi dan menetralkan ancaman yang muncul sebelum mereka dapat menimbulkan kerusakan. Selain itu, rangkaian solusi keamanan yang komprehensif, termasuk firewall, sistem pencegahan intrusi, dan perlindungan ancaman canggih, membentuk arsitektur keamanan berlapis yang kuat melawan serangan siber.

Dengan memanfaatkan teknologi ini, organisasi dapat memastikan ketahanan dan integritas infrastruktur keamanan siber mereka, menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dalam dunia yang semakin terhubung.

OpenGov Breakfast Insight telah diselenggarakan pada tanggal 27 Oktober 2023 di Shangri-La The Fort Manilla mendiskusikan terkait persiapan yang harus dilakukan suatu organisasi untuk mencegah ancaman siber yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Dihadiri oleh berbagai pemimpin teknologi, dari sektor public maupun swasta, bertukar pikiran, ide, dan pengalaman untuk bisa saling mendukung dan meningkatkan kekuatan keamanan siber untuk memperkuat ketahanan Filipina bagi generasi-generasi di masa depan.

Salam Pembuka

Mohit Sagar ∶ Kemajuan ekonomi masa depan harus selaras dengan perkembangan teknologi

Mohit Sagar, CEO sekaligus Kepala Redaktur OpenGov Asia, menegaskan bahwa saat ini ASEAN tengah menjadi pusat perhatian dunia internasional. Wilayah ini dipandang sebagai potensi pertumbuhan ekonomi yang sangat menjanjikan bagi negara-negara di seluruh dunia di masa depan. Keunggulan ASEAN dalam hal potensi ekonomi ini semakin memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam peta ekonomi global.

Mohit menggarisbawahi bahwa ASEAN memiliki beragam faktor pendukung yang menjadikannya destinasi investasi yang sangat menarik. Keberhasilan ASEAN dalam membuka diri terhadap perdagangan internasional, kemajuan infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi yang stabil menjadi pendorong kuat bagi minat investasi asing. Selain itu, berkat kerja sama regional yang semakin erat dan iklim bisnis yang progresif, ASEAN memberikan peluang bisnis yang unik bagi pelaku ekonomi global.

“Kemajuan ekonomi di masa depan harus selaras dengan perkembangan teknologi dan keamanan siber yang semakin penting,” pungkas Mohit.

Dalam era digital yang terus berkembang, teknologi memegang peranan kunci dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi, risiko terkait keamanan siber juga meningkat.

Penting bagi negara-negara dan bisnis untuk mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan harus diimbangi dengan investasi dalam keamanan siber. Ancaman seperti serangan siber, pencurian data, dan pelanggaran privasi dapat memiliki dampak yang merugikan pada perekonomian. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk melindungi infrastruktur digital dan data ekonomi dari ancaman ini.

Investasi dalam teknologi keamanan siber dan upaya penguatan kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan data menjadi kunci dalam memastikan bahwa kemajuan ekonomi tidak terganggu oleh risiko siber. Selain itu, kolaborasi antara sektor publik dan swasta dalam membangun ekosistem keamanan siber yang kokoh juga menjadi hal yang krusial.

Menurut studi yang dilakukan oleh Departemen Teknologi Informasi dan Komunikasi (DICT), Filipina menempati peringkat keempat dalam jumlah kejadian serangan siber terbanyak.

Dalam laporan DICT juga disebutkan bahwa dari tahun 2020 hingga 2022, terdapat sekitar 3.000 serangan siber yang terdeteksi di seluruh negeri. Hampir setengah dari serangan tersebut bertujuan meretas jaringan dan sistem pemerintah.

Mohit menjelaskan bahwa terdapat beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keamanan siber, di antaranya strategi yang bertujuan untuk melindungi aset dan operasi digital organisasi dengan menggabungkan teknologi, praktik, dan kebijakan yang secara bersama-sama mengatasi berbagai ancaman dan kerentanannya.

Strategi yang kedua adalah dengan memberikan keunggulan taktis dalam lingkungan ancaman yang terus berubah dengan menyederhanakan operasi keamanan dan mengurangi kompleksitas, dan yang terakhir adalah tentang memperkuat kolaborasi dengan berbagai entitas.

Selain itu, Mohit juga menjelaskan tentang solusi penting lainnya, yaitu perlindungan dan pemantauan beban kerja di cloud. Kebutuhan akan langkah-langkah keamanan yang kuat dan pemantauan berkelanjutan menjadi krusial seiring dengan bisnis semakin mentransfer aplikasi dan data mereka ke lingkungan cloud.

“Keamanan cloud bukan sekadar fitur yang diinginkan; ini adalah kebutuhan mutlak untuk melindungi kepentingan perusahaan, menjaga kepercayaan konsumen, dan memastikan kesuksesan jangka panjang di era digital yang mengedepankan data dan teknologi sebagai peran sentral dalam operasi bisnis,” tekan Mohit.

Mohit yakin bahwa dengan memberikan prioritas pada keamanan siber di era digital, organisasi dapat mengurangi risiko kejadian keamanan, melindungi data sensitif, dan menjaga kelangsungan bisnis dengan menerapkan langkah-langkah perlindungan yang sesuai untuk aset digital, data, dan proses mereka.

Welcome Address

Tin Morales ∶ Kesiapsiagaan terhadap ransomware sebagai pondasi pertahanan yang efektif menandakan pergeseran dalam paradigma keamanan siber

Tin Morales, Country Manager Filipina untuk Check Point Software Technologies Ltd, menyadari bahwa ransomware, bentuk serangan siber berbahaya yang memegang data penting sebagai sandera untuk pemerasan finansial, telah muncul sebagai ancaman yang semakin meningkat di era digital.

Ia menekankan kebutuhan mendesak untuk mempercepat upaya bersama dalam melawan ransomware untuk menghadapi ancaman yang semakin meningkat tersebut, mengakui pentingnya tindakan cepat mengingat adaptabilitas dan ketekunan para penjahat siber.

“Mempercepat strategi anti-ransomware bukan hanya prioritas; itu adalah keharusan,” Tin meyakininya. “Di lanskap digital, kebutuhan akan kecepatan sangat penting. Para penjahat siber cepat beradaptasi, dan kita harus lebih cepat, lebih lincah, dan lebih inovatif dalam respons kami.”

Check Point Software Technologies, dengan pengalaman keamanan siber selama lebih dari tiga dekade, berada di garis depan dalam menyediakan solusi untuk mengurangi ancaman ransomware. Misi perusahaan ini jelas: menjaga masa depan digital dengan mengembangkan alat dan praktik inovatif.

Tin menekankan pentingnya kolaborasi dalam upaya ini, karena intelektualitas bersama organisasi, pengalaman bersama, dan sumber daya yang digabungkan dianggap krusial dalam membentuk pertahanan yang efektif terhadap ransomware. Ia mendorong peserta untuk mewujudkan kolaborasi di dalam organisasi mereka, di antara rekan-rekan, dan dengan mitra teknologi seperti Check Point.

Tin menjelaskan bahwa baris pertahanan pertama terletak pada pendidikan dan pelatihan. Tidak cukup hanya mengandalkan solusi teknologi; sebaliknya, organisasi harus menerapkan budaya kesadaran dan kesiapsiagaan dari dalam. Ini dimulai dengan mendidik karyawan di semua tingkatan tentang risiko dan implikasi serangan ransomware.

“Anggota tim harus memahami bagaimana serangan ini terjadi, bagaimana mengenali upaya phishing, dan pentingnya melaporkan segera setiap aktivitas mencurigakan,” Tin menjelaskan. “Pengetahuan seperti ini memberdayakan individu untuk menjadi baris pertahanan pertama, karena mereka dapat segera mengambil tindakan untuk mencegah eskalasi serangan.”

Meningkatkan kesadaran adalah komponen sentral dari strategi kesiapsiagaan ini. Ini melibatkan menjaga karyawan tetap terinformasi tentang ancaman yang muncul, taktik yang digunakan oleh para penjahat siber, dan praktik terbaik terbaru untuk tetap aman. Kampanye kesadaran, sesi pelatihan rutin, dan latihan simulasi untuk menguji tanggapan insiden semuanya merupakan bagian dari pendekatan proaktif ini.

Tujuan utama dari penekanan pada pendidikan dan pelatihan ini adalah menciptakan tenaga kerja yang sadar akan keamanan siber. Ketika setiap anggota tim menjadi pembela yang waspada terhadap aset digital organisasi mereka, ketahanan terhadap serangan ransomware secara keseluruhan sangat diperkuat. Ini bukan hanya tanggung jawab departemen IT atau ahli keamanan siber, tetapi merupakan upaya bersama melibatkan setiap karyawan.

Tin sangat yakin bahwa teknologi yang muncul, seperti kecerdasan buatan (AI), pembelajaran mesin (ML), dan otomatisasi, memainkan peran penting dalam meningkatkan keamanan aset digital. Alat-alat canggih ini memungkinkan organisasi untuk dengan cepat dan efektif mendeteksi dan melawan ancaman saat muncul secara real-time.

Dengan algoritma AI dan ML yang terus menganalisis kumpulan data dan pola yang luas, mereka dapat mengidentifikasi risiko dan kerentanan potensial lebih cepat daripada metode tradisional, memberikan pertahanan proaktif terhadap ancaman siber, yang pada gilirannya memperkuat keamanan digital secara keseluruhan.

Dengan komitmen terhadap ketahanan, proaktif, dan kolaborasi, Filipina berada di jalur menuju lanskap digital yang lebih aman dan terlindungi. Tin yakin bahwa acara OpenGov Asia akan menimbulkan diskusi produktif dan ide-ide inovatif serta membentuk kemitraan baru sesuai dengan ambisi dan target demi kemajuan.

“Kita harus memahami urgensi untuk mempercepat langkah-langkah keamanan siber dan perlunya tindakan cepat dan bersatu dalam menanggapi ancaman serangan ransomware,” Simpul Tin. “Kita harus mengakui peran sentral pendidikan, kolaborasi, dan teknologi yang muncul dalam memperkuat keamanan digital.”

In Conversation With

Carlos Tengkiat ∶ Penggunaan AI untuk mendeteksi penipuan transaksi dapat mengatasi penipuan

Carlos Tengkiat, Kepala Petugas Keamanan Informasi di Rizal Commercial Banking Corporation, berbicara tentang penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis data transaksi pelanggan secara real-time guna mengidentifikasi dan mengatasi tindakan penipuan dengan cepat.

Vivek Gullapalli, Global Chief Information Security Officer untuk APAC di Check Point Software Technologies Ltd, menekankan implementasi langkah-langkah keamanan yang dilakukan Check Point untuk melawan pencurian data cloud dan akses tanpa izin.

Menurut Carlos, lembaga keuangan di seluruh dunia telah berhasil mengimplementasikan sistem keamanan canggih berbasis AI untuk melindungi operasi mereka dari ancaman siber yang berkembang. Langkah-langkah keamanan canggih ini terbukti sangat efektif dalam menghentikan upaya peretasan dan pelanggaran data, sehingga menjaga keamanan informasi pelanggan yang sensitif.

Dia juga menyoroti kasus bank global terkemuka yang telah merangkul solusi keamanan berbasis AI, yang memungkinkan pemantauan berkelanjutan terhadap lalu lintas jaringan. Sistem-sistem ini dengan cepat mengenali pola yang tidak biasa dan potensi ancaman, sehingga memungkinkan bank untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah keamanan sebelum mereka berkembang menjadi pelanggaran besar.

Contoh lain melibatkan sebuah perusahaan jasa keuangan multinasional asal Amerika Serikat yang telah mengadopsi solusi berbasis AI untuk meningkatkan inisiatif keamanannya. Dengan menggunakan algoritma AI untuk menganalisis data transaksi pelanggan secara real-time, bank ini dapat dengan cepat mendeteksi dan mengatasi transaksi curang, sehingga menjaga integritas layanan keuangan mereka.

Demikian juga, sebuah bank ternama berbasis di Inggris menggunakan AI untuk memperkuat kerangka keamanannya. Dalam hal ini, algoritma pembelajaran mesin (ML) memainkan peran penting dalam mengenali anomali dalam perilaku pengguna, yang dengan cepat mengidentifikasi akun yang mungkin telah terkompromi. Strategi proaktif ini telah menghasilkan penurunan yang signifikan dalam upaya akses tanpa izin.

“Contoh-contoh seperti ini menunjukkan peran kritis yang dimainkan oleh AI dan ML dalam pertempuran berkelanjutan melawan ancaman siber dalam industri keuangan,” ujar Carlos. “Teknologi-teknologi ini memberdayakan organisasi untuk mendeteksi dan merespons potensi pelanggaran secara real-time, sehingga memungkinkan pertahanan yang proaktif terhadap upaya peretasan dan pelanggaran data.”

Penggunaan AI dalam keamanan siber keuangan telah berkembang dari konsep canggih menjadi elemen mendasar dalam perlindungan data pelanggan yang sensitif. Langkah-langkah proaktif ini telah membuktikan nilainya, memberikan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi kepada pelanggan terhadap keamanan transaksi keuangan mereka.

Sebagai Kepala Petugas Keamanan Informasi di RCBC, Carlos meyakini bahwa keamanan siber bukan lagi sebuah pertahanan pasif, melainkan juga menjadi fasilitator proaktif dari operasi yang mulus. Di bawah bimbingannya, RCBC telah mengadopsi pendekatan keamanan siber multi-faset untuk melindungi informasi pelanggan dan data keuangan kritis, dengan memanfaatkan keamanan siber sebagai landasan untuk mengoptimalkan produktivitas dan efisiensi organisasi.

RCBC telah menerapkan langkah-langkah perlindungan data yang ketat untuk memastikan kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan data yang sensitif. Dasar yang kuat ini berfungsi sebagai pilar operasi yang aman, mencegah pelanggaran data yang dapat mengganggu produktivitas.

Tim keamanan siber bank menggunakan alat-alat deteksi ancaman dan pemantauan yang canggih. Keterlihatan real-time ke dalam jaringan memungkinkan identifikasi dan tanggapan cepat terhadap potensi ancaman, sehingga menjaga operasi yang aman dan tanpa gangguan.

Rencana tanggapan insiden yang terdefinisi dengan baik telah disiapkan, mengurangi waktu tidak beroperasinya dan meminimalkan dampak insiden keamanan terhadap produktivitas. Selain itu, RCBC berinvestasi dalam mendidik karyawan tentang ancaman keamanan terbaru dan praktik terbaik keamanan siber. Karyawan yang terinformasi adalah kunci untuk menjaga keamanan dan produktivitas.

RCBC juga telah menerapkan solusi kerja jarak jauh yang aman, memungkinkan karyawan untuk bekerja dari mana saja tanpa mengorbankan keamanan. Hal ini meningkatkan efisiensi operasional dan adaptabilitas, terutama selama gangguan yang tak terduga. Dengan ini, pengendalian akses yang disesuaikan memastikan bahwa karyawan memiliki tingkat akses yang sesuai ke sistem dan data, mengurangi risiko akses tanpa izin dan pelanggaran data.

Carlos menekankan pentingnya mengevaluasi dan mengatasi risiko keamanan siber yang terkait dengan vendor dan mitra pihak ketiga, menegaskan signifikansi pendekatan proaktif ini dalam mempertahankan kelangsungan rantai pasokan dan layanan tanpa gangguan.

“Kami mengeksplorasi solusi keamanan siber inovatif, termasuk otomatisasi dan AI,” ungkap Carlos. “Teknologi-teknologi ini menyederhanakan proses keamanan, memungkinkan tim keamanan untuk fokus pada ancaman yang kompleks dan meningkatkan efisiensi operasional.”

Carlos yakin bahwa keamanan siber berfungsi sebagai katalisator untuk operasi yang efisien dan aman, menyoroti bagaimana investasi RCBC dalam strategi keamanan siber yang komprehensif memastikan ketangguhan sistem, data, dan operasi mereka terhadap ancaman yang terus berkembang. Pada akhirnya, ini melindungi organisasi dan pelanggan mereka sambil mengoptimalkan produktivitas dan efisiensi di semua aspek bisnis.

Vivek Gullapalli ∶  Check Point melindungi data cloud dari pencurian dan akses tanpa izin

Vivek Gullapalli, Global Chief Information Security Officer untuk APAC di Check Point Software Technologies Ltd, menyoroti peran yang tak tergantikan dari intelijen ancaman real-time dalam pertempuran melawan ancaman siber, memamerkan efektivitasnya dalam mengatasi berbagai skenario keamanan dunia nyata.

Dalam serangkaian skenario dunia nyata, intelijen ancaman real-time terbukti menjadi aset kritis bagi berbagai organisasi. Dalam perusahaan multinasional, itu dengan cepat mendeteksi aktivitas jaringan yang tidak biasa dan menggagalkan upaya kelompok APT untuk mengirimkan data, meminimalkan kerusakan potensial.

Vivek berbagi bahwa lembaga keuangan besar telah berhasil menggunakan intelijen ini untuk mengidentifikasi dan mencegah serangan phishing, melindungi karyawan mereka dan meningkatkan kesadaran keamanan siber. Demikian pula, perusahaan teknologi internasional bereaksi dengan cepat terhadap kerentanan zero-day, menciptakan patch untuk melindungi perangkat lunak dan pengguna mereka.

Kejadian-kejadian ini menunjukkan peran yang tak tergantikan dari intelijen ancaman real-time sebagai sistem peringatan dini, memungkinkan organisasi untuk secara proaktif mengatasi risiko keamanan dalam lanskap digital yang terus berubah.

“Untuk mencegah ancaman ransomware, organisasi harus mengadopsi strategi berlapis, dan Check Point Software Technologies Ltd menawarkan rangkaian solusi komprehensif untuk mengatasi tantangan ini,” kata Vivek. “Check Point menggunakan solusi pencegahan ancaman canggih, memanfaatkan AI dan ML untuk mendeteksi dan menggagalkan serangan ransomware secara real-time.”

Vivek menekankan pentingnya menerapkan model keamanan zero-trust dan menyoroti peran Check Point dalam memverifikasi dan melakukan autentikasi pengguna dan perangkat untuk memastikan akses jaringan yang sah, terutama dalam konteks solusi kerja jarak jauh yang aman.

Selain itu, ia menyoroti signifikansi berbagai langkah keamanan, termasuk segmentasi jaringan, intelijen ancaman, perencanaan respons insiden, solusi pencadangan dan pemulihan, kepatuhan, dan manajemen patch keamanan, dalam pendekatan komprehensif Check Point untuk mencegah ransomware.

“Langkah-langkah ini secara kolektif memperkuat posisi keamanan siber sebuah organisasi dan mengurangi kerentanannya terhadap ancaman ransomware, menawarkan lingkungan digital yang aman dalam lanskap ancaman yang terus berkembang,” katanya.

Check Point sebagai perusahaan teknologi perangkat lunak telah menerapkan sejumlah langkah perlindungan dan solusi untuk melawan pencurian data dan akses tanpa izin ke sumber daya cloud. Pendekatan mereka mencakup alat-alat Manajemen Postur Keamanan Cloud (CSPM) untuk pemantauan berkelanjutan dan deteksi konfigurasi yang salah, Manajemen Identitas dan Akses (IAM) untuk kontrol akses yang rinci, dan solusi Pencegahan Kehilangan Data (DLP) untuk mencegah kebocoran data.

Selain itu, Zero Trust Network Access (ZTNA) dan Multi-Factor Authentication (MFA) meningkatkan keamanan akses, sementara intelijen ancaman dan pemantauan real-time dengan cepat mendeteksi dan mengatasi upaya akses tanpa izin. Check Point juga menyediakan solusi keamanan berbasis cloud, alat-alat kepatuhan dan tata kelola, perencanaan respons insiden, dan otomatisasi keamanan untuk memperkuat pertahanan keamanan cloud.

“Pendekatan komprehensif ini memastikan bahwa organisasi dapat melindungi sumber daya cloud dan data sensitif mereka dalam lanskap digital yang dinamis,” kata Vivek.

Salam Penutup

Mohit Sagar memberikan tepuk tangan dan apresiasi kepada delegasi dan pembicara yang sudah hadir. Ia berharap, pertemuan OpenGov Breakfast Insight dapat menjadi awal yang menginspirasi bagi semua pihak yang terlibat dalam upaya memajukan keamanan siber dan teknologi di wilayah ASEAN.

Semangat kolaborasi dan komitmen untuk mencapai tujuan bersama merupakan kunci keberhasilan, dan Mohit berharap pertemuan ini akan mendorong langkah-langkah konkret menuju masa depan yang lebih aman dan inovatif di dunia digital. Dengan demikian, ASEAN dapat terus bersinar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mendukung perkembangan teknologi dan keamanan siber yang berkelanjutan.

Tin Morales juga mengucapkan terima kasih kepada semua delegasi yang telah dengan antusias meluangkan waktu dan tenaga mereka dalam diskusi yang bertujuan untuk mewujudkan Filipina yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan keamanan siber di masa depan. Dia menyatakan keyakinannya bahwa kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan seluruh pemangku kepentingan akan menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun lingkungan siber yang aman dan berkelanjutan di Filipina.

Dengan semangat kolaborasi yang telah ditunjukkan dalam pertemuan ini, Tin Morales optimis bahwa Filipina dapat memperkuat pertahanan siber mereka, melindungi data sensitif, dan menjaga keamanan bisnis dalam era digital yang semakin kompleks. Dengan langkah-langkah proaktif dan solusi keamanan yang tepat, mereka dapat bersama-sama mencapai keberhasilan jangka panjang dan ketahanan terhadap ancaman siber yang ada.

Keamanan siber bukanlah beban yang hanya harus dipikul oleh pemerintah semata. Ini adalah tanggung jawab bersama untuk menjaga integritas negara dan melindungi kesejahteraan generasi-generasi mendatang. Dalam dunia yang semakin terhubung dan bergantung pada teknologi digital, semua masyarakat dan organisasi sekalipun memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan siber yang aman dan andal.

Kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil sangatlah penting. Dengan berbagi pengetahuan, berdiskusi, dan berkolaborasi, hal ini dapat membangun pertahanan siber yang lebih kuat dan efektif. Ini akan melindungi data sensitif, menjaga keberlanjutan bisnis, dan memberikan fondasi yang kokoh bagi generasi mendatang.

“Pertemuan seperti OpenGov Breakfast Insight menjadi wadah penting untuk memperkuat kolaborasi ini. Mari kita terus berkomitmen untuk bekerja bersama-sama, berbagi ide, dan mengambil tindakan proaktif dalam menghadapi tantangan keamanan siber. Dengan begitu, kita dapat menjaga negara kita dengan aman dan memastikan bahwa generasi berikutnya dapat hidup dalam lingkungan yang sejahtera dan aman dari ancaman siber,” Ucap Tin antusias.

“Terima kasih kepada semua yang telah berkontribusi dalam upaya ini, dan mari kita lanjutkan perjuangan kita untuk mencapai tujuan bersama ini,” tutup Mohit dilanjutkan dengan tepuk tangan yang meriah dari para delegasi di ruangan.

PARTNER

Qlik’s vision is a data-literate world, where everyone can use data and analytics to improve decision-making and solve their most challenging problems. A private company, Qlik offers real-time data integration and analytics solutions, powered by Qlik Cloud, to close the gaps between data, insights and action. By transforming data into Active Intelligence, businesses can drive better decisions, improve revenue and profitability, and optimize customer relationships. Qlik serves more than 38,000 active customers in over 100 countries.

PARTNER

As a Titanium Black Partner of Dell Technologies, CTC Global Singapore boasts unparalleled access to resources.

Established in 1972, we bring 52 years of experience to the table, solidifying our position as a leading IT solutions provider in Singapore. With over 300 qualified IT professionals, we are dedicated to delivering integrated solutions that empower your organization in key areas such as Automation & AI, Cyber Security, App Modernization & Data Analytics, Enterprise Cloud Infrastructure, Workplace Modernization and Professional Services.

Renowned for our consulting expertise and delivering expert IT solutions, CTC Global Singapore has become the preferred IT outsourcing partner for businesses across Singapore.

PARTNER

Planview has one mission: to build the future of connected work. Our solutions enable organizations to connect the business from ideas to impact, empowering companies to accelerate the achievement of what matters most. Planview’s full spectrum of Portfolio Management and Work Management solutions creates an organizational focus on the strategic outcomes that matter and empowers teams to deliver their best work, no matter how they work. The comprehensive Planview platform and enterprise success model enables customers to deliver innovative, competitive products, services, and customer experiences. Headquartered in Austin, Texas, with locations around the world, Planview has more than 1,300 employees supporting 4,500 customers and 2.6 million users worldwide. For more information, visit www.planview.com.

SUPPORTING ORGANISATION

SIRIM is a premier industrial research and technology organisation in Malaysia, wholly-owned by the Minister​ of Finance Incorporated. With over forty years of experience and expertise, SIRIM is mandated as the machinery for research and technology development, and the national champion of quality. SIRIM has always played a major role in the development of the country’s private sector. By tapping into our expertise and knowledge base, we focus on developing new technologies and improvements in the manufacturing, technology and services sectors. We nurture Small Medium Enterprises (SME) growth with solutions for technology penetration and upgrading, making it an ideal technology partner for SMEs.

PARTNER

HashiCorp provides infrastructure automation software for multi-cloud environments, enabling enterprises to unlock a common cloud operating model to provision, secure, connect, and run any application on any infrastructure. HashiCorp tools allow organizations to deliver applications faster by helping enterprises transition from manual processes and ITIL practices to self-service automation and DevOps practices. 

PARTNER

IBM is a leading global hybrid cloud and AI, and consulting services provider, helping clients in more than 175 countries capitalize on insights from their data, streamline business processes, reduce costs and gain the competitive edge in their industries. Nearly 3,800 government and corporate entities in critical infrastructure areas such as financial services, telecommunications and healthcare rely on IBM’s hybrid cloud platform and Red Hat OpenShift to affect their digital transformations quickly, efficiently, and securely. IBM’s breakthrough innovations in AI, quantum computing, industry-specific cloud solutions and business services deliver open and flexible options to our clients. All of this is backed by IBM’s legendary commitment to trust, transparency, responsibility, inclusivity, and service. For more information, visit www.ibm.com